Sabtu, 30 Maret 2013

GILA !!! Gelar Akademis Terbanyak

Unik NIh! Orang Indonesia yang Punya Gelar Akademis Terbanyak

Written By UNDC | Uniknihdotcom on Saturday, November 3, 2012 | 4:59 AM

Ini orang gila sekolah, atau memang punya niatan untuk memotivasi orang lain agar rajin sekolah atau kuliah yah...Ternyata ada orang Indonesia yang punya gelar akademis banyak bener....sampai namanya aja gak ada apa-apanya panjangya dibandingkan dengan gelarnya. CekodiTTT agan uniknih berita uniknya...

SERATUS SKS TIAP SEMESTER SELAMA 13 TAHUN PRIA INI RAIH 18 GELAR AKADEMIS DAN PROFESI 
Hitung sebentar gelar di belakang nama Anda? Satu, dua, atau tiga? Buat Welin Kusuma, gelarnya tidak cukup jika dihitung dengan sepuluh jari tangan. Pasalnya, dia punya 18 gelar akademis dan profesi. Dia butuh waktu 13 tahun untuk mengumpulkan gelar-gelar itu di berbagai kampus di Surabaya.

Welin Kusuma, 31, mengeluarkan satu per satu ijazah dari dalam tas ranselnya. Saat ditata di atas meja, tinggi tumpukan ijazah itu hampir sejengkal. Maklum, pria asal Kendari tersebut memiliki 18 gelar akademis dan profesi. Rinciannya, dia menyandang delapan gelar sarjana, tiga gelar magister, dan tujuh gelar profesi.

”Ini salinan sertifikat Muri (Museum Rekor-Dunia Indonesia) yang saya dapatkan April lalu,” tutur Welin yang ditemui di Hotel Mercure, Surabaya, kemarin (12/10). Pada penghargaan itu, tertulis nama Welin Kusuma ST, SE, SSos, SH, SKom, SS, SAP, SStat, MT, MSM, MKn, RFP-I, CPBD, CPPM, CFP, AffWM, BKP, QWP. Saking panjangnya gelar yang menyertai, nama tersebut sampai ditulis dalam tiga baris.

Welin telah mengurutkan gelar-gelar tersebut sesuai dengan periode pendidikan yang ditempuhnya mulai 1999– 2012. Setelah lulus dari SMAN 1 Kendari, dia langsung melanjutkan ke jurusan teknik industri di Ubaya pada 1999. Lima tahun kemudian, dia mendapatkan gelar sarjana teknik (ST) pada 2004.

Saat semester lima di jurusan teknik industri atau pada 2001, Welin mengambil jurusan ekonomi manajemen di STIE Urip Sumoharjo. Pada 2002 dia mengikuti perkuliahan di jurusan ilmu hukum Unair dan jurusan administrasi negara di Universitas Terbuka (UT). Seolah haus dengan dunia pendidikan, pada tahun yang sama Welin mengambil jurusan teknik informatika di Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS).

”Pada 2003 saya mengambil jurusan sastra Inggris di UK Petra,” tutur pria kelahiran Makassar itu. Dia juga menempuh pendidikan S-1 di Universitas Terbuka pada jurusan administrasi publik dan statistik.

Pendidikan magister teknik industri ditempuhnya di ITS pada 2004. Welin kemudian meraih gelar magister sains manajemen (MSM) dan magister kenotariatan (MKn) di Universitas Airlangga (Unair). Pria 31 tahun tersebut sengaja mengambil program magister di perguruan tinggi negeri untuk mendapatkan pendidikan yang lebih bermutu.

Pendidikan profesi yang pernah dia dapatkan adalah registered financial planner Indonesia (RFP-I), certified professional in brand development (CPBD), certified professional in product management (CPPM), certified financial planner (CFP), affiliate wealth manager (AffWM), bersertifikat konsultan pajak (BKP), qualified wealth planner (QWP), dan certified professional human resource (CPHR). ”Gelar profesi itu berkaitan dengan manajemen, keuangan, dan perpajakan,” urainya.

Selama menjalani pendidikan tersebut hampir tiap tahun, dia menempuh sampai seratus SKS tiap pekan. Bahkan, dia pernah menempuh 111 SKS dalam satu semester genap pada periode Februari–Agustus 2003. Saat itu Welin menempuh kuliah di lima jurusan S-1 sekaligus. Yakni, teknik industri Ubaya (9 mata kuliah/MK-24 SKS), ekonomi manajemen STIE Urip Sumoharjo (4 MK-11 SKS), administrasi negara UT (10 MK-28 SKS), teknik informatika STTS (9 MK-25 SKS), dan hukum Unair (7 MK-23 SKS).

Welin memperoleh rekor Muri yang kedua atas 111 SKS yang ditempuhnya. Penghargaan tersebut dia dapatkan pada Agustus lalu. Dia menuturkan, setiap hari dirinya mengikuti kuliah mulai pukul 07.00 dan baru selesai pada pukul 22.00. Bahkan, pada Sabtu dan Minggu dia juga mengambil kuliah. Misalnya, jurusan ilmu hukum di Unair yang dia tempuh di kelas ekstensi.

Padatnya jadwal kuliah itu membuat dia pontang-panting dari satu kampus ke kampus lain. Bahkan, dia harus pintar-pintar menyesuaikan jadwal perkuliahan pada satu jurusan agar tidak bertabrakan dengan jadwal kuliah di jurusan lain. ”Saya sediakan buku khusus untuk mencatat jadwal kuliah agar lebih cermat,” tutur pria berkacamata tersebut.

Namun, sepandai-pandainya mengatur jadwal, anak kedua di antara tiga bersaudara itu menemui jadwal yang benar-benar mepet. Saat itu, pada 2003, dia mengambil kuliah di jurusan sastra Inggris UK Petra dan teknik komputer STTS. Di UK Petra ada jam kuliah mulai pukul 13.30–15.30. Pada hari yang sama di STTS dia harus mengikuti kuliah pada pukul 15.00–18.00.

Dengan terpaksa Welin harus izin untuk keluar kelas dari perkuliahan UK Petra pada pukul 15.00. Dia pun memacu kendaraannya dari Jalan Siwalankerto untuk segera mengikuti kuliah di STTS, Jalan Ngagel Jaya Tengah. Dia baru bisa masuk ke dalam kelas itu pukul 15.35. Karena batas toleransi keterlambatan hanya 30 menit, dia tidak diperkenankan masuk ruang kuliah. ”Selama satu semester itu saya terlambat empat kali. Untung, masih batas toleransi,” tuturnya.

Lantaran kuliah di beberapa tempat yang berbeda, Welin beberapa kali bertemu dengan dosen yang sama. Dosen tersebut memang mengajar di dua kampus berbeda. ”Dosen itu jadi ingat terus sama saya,” ceritanya lantas tertawa.

Anak pasangan Onny Kusuma-Sisilia Chandra tersebut telah menuntaskan semua pendidikan yang dia tempuh. Terakhir, dia baru saja menyelesaikan kuliah di jurusan teknik informatika STTS pada 2012. Itu pendidikan paling lama yang dia tempuh, yakni sepuluh tahun. Dia menuturkan, cukup sulit lulus dari STTS karena harus bisa membuat aplikasi yang bagus dan teruji. ”Saya memang tidak mau main-main dengan tugas akhir saya. Harus bagus,” tegasnya.

Dia pernah mendapatkan surat peringatan akan dikeluarkan dari STTS karena tak segera menyelesaikan studi. Surat yang sama pada awal 2011 itu juga dia terima saat menempuh pendidikan magister sains manajemen di Unair. Namun, akhirnya Welin berhasil menyelesaikan studi di magister sains manajemen pada September 2011. Di STTS dia telah yudisium pada Februari lalu. ”Waktu dapat surat peringatan DO (drop out, Red) itu, saya sempat down. Pusing,” ucapnya.

Welin mengungkapkan, minatnya untuk menempuh aneka pendidikan tersebut didorong keinginan untuk menjadi konsultan. Cita-cita itu telah muncul sejak kecil. ”Konsultan apa? Hmmm, konsultan yang terintegrasi,” tuturnya.

Dalam bayangannya, seorang konsultan terintegrasi bisa memberikan pandangan dari banyak perspektif. Mulai hukum, ekonomi, hingga keuangan. Saat ini dia menjadi konsultan pajak lantaran punya gelar BKP.

Namun, pekerjaan resmi yang dia tekuni sekarang adalah bidang sistem informasi pada sebuah perusahaan di kawasan Rungkut Industri. Welin mengaku pernah pula bekerja di bidang properti dan perbankan. ”Dari bekerja itu pula biaya pendidikan saya tanggung sendiri,” ucapnya. Dia membiayai sendiri sebagian besar pendidikan yang dia tempuh sejak 2004.

Setelah 13 tahun menempuh pendidikan dan mendapatkan 18 gelar itu, Welin berencana menempuh pendidikan lagi. Dia ingin mengambil program doktoral. Namun, sama dengan tahapan pendidikan di tingkat sarjana dan magister, Welin tak mau main-main dengan kampus yang dipilih. ”Mau cari yang negeri atau yang bagus. Tetapi, saya masih menyesuaikan jadwal kerja,” katanya.

Sebenarnya, dia baru saja memperoleh gelar profesi CPHR (certified professional human resource). Jadi, bisa dibilang gelar Welin kini menjadi 19 buah. ”Saya ingin berbagi dengan orang lain. Mungkin semacam memberikan motivasi,” terangnya.


Read more: http://www.uniknih.com/2012/11/unik-nih-orang-indonesia-yang-punya.html#ixzz2OzEyy2hS

Kamis, 14 Februari 2013

Soekarno-Inggit

Perselingkuhan Soekarno-Inggit di rumah kos Bandung

Reporter : Mardan 
                Kamis, 14 Feb 2013
Perselingkuhan Soekarno-Inggit di rumah kos Bandung

Hubungan percintaan Soekarno dengan Inggit Garnasih semakin membara seiring kondisi rumah tangga masing-masing yang semakin hambar. Perubahan sikap yang dialami Haji Sanusi terhadap Inggit membuat wanita cantik itu semakin kesepian dan tak punya teman mengadu.

Sementara, hubungan rumah tangga Soekarno dengan Siti Oetari juga tak berbeda jauh. Soekarno semakin merasa bosan dengan sikap kanak-kanak Oetari.

Kondisi tersebut mengakibatkan Soekarno dan Inggit tak bisa menahan rasa suka satu sama lain. Dalam buku biografi 'Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia', Karya; Cindy Adams, diceritakan keduanya kerap berbagi kegembiraan bersama.

"Pada awalnya kami menunggu. Selama beberapa bulan kami menunggu dan tiba-tiba dia berada dalam rengkuhanku. Ya itulah yang terjadi. Aku menciumnya. Dia menciumku. Lalu aku menciumnya kembali dan kami terperangkap dalam rasa cinta satu sama lain. Dan semua itu terjadi selagi ia masih istri dari Sanusi dan aku suami dari Oetari," kata Soekarno.

Soekarno tak merasa berdosa atas apa yang dilakukannya itu. Sebab, dia memiliki pandangan rumah tangga Inggit dengan Sanusi telah lama hancur dan bukan karena ulahnya.

Perasaan cinta di antara keduanya semakin besar. Sementara, kondisi rumah tangga masing-masing semakin tak tentu arah. Soekarno akhirnya menceraikan Oetari dan mengembalikannya ke HOS Tjokroaminoto di Surabaya, pada 1923.

Sekembalinya ke Bandung, Soekarno dan Inggit pun segera bertemu kembali. Soekarno bercerita soal kondisi dan harapannya mengenai sosok pendampingnya kelak. Dia berharap wanita yang akan mendampinginya kelak bisa menjadi seorang ibu, sahabat, kekasih, dan pemberi semangatnya.

Tiap malam keduanya menghabiskan waktu bersama di rumah yang terletak di Jalan Javaveem, Bandung itu. Sikap Sanusi yang semakin cuek kepada Inggit dan doyan keluar malam untuk bermain bilyard semakin membuat Inggit kesepian dan hampa. Inggit tak menolak ketika Soekarno merayunya.

"... Dia mengeser tangannya merayap perlahan-lahan dan menyentuh tanganku. Kurasakan tenaganya. Dadanya mendekat. Aku ditarik dan kami berpindah tempat. Hendaknya semua maklum apa yang terjadi sebagai kelanjutannya. Aku malu menceritakannya, aku adalah perempuan Timur. Lagi pula keadaan waktu itu, keadaan rumah tangga kami, maksudku bisa kalian maklumi. Suamiku sudah lama bukan laki-laki yang bisa memuaskan diriku."

"... Ah untuk apa aku mengutik-utik masa lampau. Malu! Cerita kita waktu muda sudah sama-sama kita maklum. Sudahlah bukan sesuatu yang pantas untuk ditiru," kata Inggit.

Tali asmara antara Inggit dan Soekarno akhirnya tercium Sanusi. Cercaan dan hujatan pun diterima Inggit. Tak tahan dengan kondisi tersebut, Inggit akhirnya mengajak Sanusi berdiskusi menyelesaikan persoalan mereka. Inggit mencurahkan semua kelakuan Sanusi yang tak disukainya dan menyatakan hubungan mereka tak bisa diteruskan jika seperti itu terus.

Sinyal perpisahan itu akhirnya menjadi kenyataan saat Sanusi menjatuhkan talak kepada Inggit. Sanusi mengaku ikhlas melepas Inggit untuk menikah dengan Soekarno.

"Akang ridho kalau Eulis (panggilan Inggit oleh Sanusi) menerima lamaran Koesno (nama kecil Soekarno) itu dan kalian berdua menikah. Mari kita jagokan dia hingga benar-benar dia nanti menjadi pemimpin rakyat. Dampingi dia, bantulah dia, sampai dia benar-benar mencapai cita-citanya," kata Sanusi.

Sanusi dengan lapang dada merelakan Inggit untuk menikah dengan Soekarno. Bagi Sanusi, yang paling penting dia melihat Inggit bahagia. Keduanya akhirnya bercerai pada 1923.

"Eulis, kata Kan Uci (panggilan Sanusi oleh Inggit) dengan terpatah-patah. Aku tahu dia pun terharu menyatakannya. Eulis, ulangnya, Akang telah katakan kepada Kusno, cintailah Inggit dengan sungguh-sungguh dan jangan terlantarkan dia. Saya tidak senang, tidak rela kalau musti melihat Inggit hidup sengsara baik lahir maupun batin. Saya tidak rela kalau sampai mendengar kejadian menimpanya seperti itu."

Soekarno dan Inggit akhirnya menikah pada 1923. Kelak hampir 20 tahun Inggit dan Soekarno berumah tangga. Berbagi suka dan duka dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Peran Inggit sangat besar dalam mendukung Soekarno.

Inggit Garnasih, wanita yang menaklukkan hati Soekarno muda

Akhir Juni 1921, Soekarno muda datang dari Surabaya setelah lulus Hoogere Burger School (HBS). Dengan mimpi besar dia ingin menjadi seorang insinyur di bidang teknik sipil. Maka Soekarno meneruskan kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng. Saat itu mahasiswa teknik pribumi masih itungan jari.

Atas pertolongan Tjokroaminoto, guru sekaligus mertuanya, Soekarno mendapat tempat kos di rumah Sanusi. Pria paruh baya ini adalah anggota Sarikat Islam. Inggit Garnasih adalah istri Sanusi, yang kini menjadi ibu kos Soekarno.

Soekarno sudah mengagumi Inggit sejak pandangan pertama. Dia tak pernah lupa saat Inggit menyambutnya di pintu rumah Jl Ciateul, Bandung.

"Keberuntungan yang utama itu sedang berdiri di pintu masuk dalam suasana setengah gelap dibingkai lingkaran cahaya dari belakang. Dia memiliki tubuh yang kecil, dengan sekuntum bunga merah menyolok di sanggulnya dan sebuah senyuman yang mempesona. Dia adalah istri Haji Sanusi, Inggit Garnasih. Oh, luar biasa perempuan ini," kata Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams.

Saat itu usia Soekarno 20 tahun. Sementara Inggit 33 tahun. Kematangan Inggit yang membuat Soekarno terpesona.

Soekarno memang saat itu telah menikah dengan Oetari Tjokroaminoto, tapi pernikahannya berjalan hambar. Oetari terlalu kekanak-kanakan untuk Soekarno yang bersemangat. Soekarno tak pernah mencintainya. Dia menikahi Oetari untuk membantu gurunya Tjokroaminoto. Bukan karena cinta.

Inggit pun terkesan dengan pertemuan pertama. "Dia mengenakan peci beledu hitam kebanggaannya dan pakaian putih-putih. Cukupan tinggi badannya. Ganteng. Anak muda yang bersolek, perlente." kata Inggit dalam novel biografi Kuantar ke Gerbang yang ditulis Ramadhan KH.

Inggit melayani semua kebutuhan Soekarno. Setiap hari bertemu membuat keduanya mulai berani bicara hal-hal pribadi. Soekarno menceritakan soal perkawinannya yang hambar. Akhirnya Soekarno tahu, Inggit pun tak bahagia dengan perkawinannya.

Setiap malam Sanusi meninggalkan Inggit untuk pergi main biliar dan berkumpul bersama teman-temannya. Perkawinan Inggit ternyata sama dengan Soekarno, sama-sama hambar.

Oetari sempat tinggal di rumah kos. Tetapi tak lama. Saat berada di rumah kos, Oetari pun tak tinggal satu kamar dengan Soekarno. Akhirnya Soekarno menceraikan Oetari.

Maka Inggit menjadi teman curhat Soekarno yang setia. Pada Inggitlah, Soekarno menumpahkan segala keluh kesah dan cita-citanya. Malam-malam yang dingin di Bandung menyatukan mereka. Akhirnya hubungan ini berlangsung lebih jauh dari sekadar anak kos dan induk semangnya.

"Hanya Inggit dan aku dalam rumah yang sepi. Dia kesepian, aku kesepian. Perkawinannya tidak betul. Dan perkawinanku tidak betul. Dan, sebagai dapat diduga. Hubungan ini berkembang," kata Soekarno.

Soekarno dan Inggit menjalin percintaan sembunyi-sembunyi di belakang Haji Sanusi. Hingga akhirnya Soekarno secara terus terang meminta Sanusi menceraikan Inggit. Sanusi sudah tahu rumah tangganya berantakan. Dia dengan sukarela menceraikan Inggit.

Maka Soekarno menikahi Inggit tahun 1923. Kelak, hampir 20 tahun Inggit mendampingi Soekarno baik suka maupun duka. Inggit menemani Soekarno saat dibuang di Flores, diasingkan ke Bengkulu dan dipenjara pemerintah kolonial. Inggit juga mengorbankan harta bendanya untuk perjuangan Soekarno tanpa pamrih. Bisa dibilang, Inggit adalah wanita yang paling berjasa untuk Soekarno.

Tanggal 14 Februari ini, merdeka.com coba menghadirkan kembali kisah cinta Inggit dan Soekarno. Tanpa Inggit, Soekarno tak akan menjadi seorang pemimpin besar. Cinta memberi kekuatan bagi Soekarno untuk berjuang membebaskan negerinya dari penjajah. Cinta juga yang memberi kekuatan Inggit untuk berkorban.


Inggit, istri kedua Soekarno yang jadi rebutan pria Bandung


Inggit Garnasih setia mendampingi Soekarno di saat-saat sulit. Keduanya hampir 20 tahun mengarungi hidup berumah tangga dalam suka dan duka. Sebagai seorang wanita, Inggit tergolong wanita tangguh yang siap berkorban untuk suami yang amat dicintainya.

Soekarno sendiri mengaku beruntung memiliki Inggit. Selain cantik, Inggit juga bisa menjadi sosok yang lengkap bagi Soekarno. Inggit bisa menjadi seorang ibu, sahabat, kekasih, yang selalu menyemangati Soekarno.

Inggit lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 17 Februari 1888. Saat lahir Inggit diberi nama Garnasih oleh orang tuanya yang bernama Bapak Ardjipan dan Ibu Amsi. Garnasih merupakan singkatan dari kata Hegar Asih. Hegar memiliki arti segar menghidupkan, sementara Asih memiliki arti kasih sayang.

Tambahan kata Inggit di depan nama Garnasih memiliki sebuah cerita menarik. Inggit diambil dari kata 'Seringgit'. Jika dinominalkan satu ringgit sama dengan 2,6 Gulden Belanda kala itu. Jumlah itu sangat besar saat itu.

Inggit sejak kecil selalu menarik perhatian lawan jenisnya. Saat beranjak dewasa, Inggit tumbuh menjadi wanita yang cantik. Kecantikannya saat itu tak ada yang menandingi di daerahnya tinggal.

Akibat kecantikan yang dimilikinya, sampai-sampai membuat pria yang melihatnya enggan untuk berkedip. Mereka menaruh rasa cinta kepada Inggit. Bahkan, saat itu muncul sebuah kalimat di kalangan pria yang menggaguminya.

"Mendapatkan senyuman dari Garnasih ibarat mendapat uang seringgit," demikian ditulis dalam buku 'Biografi Inggit Garnasih: Perempuan Dalam Hidup Sukarno' karya Reni Nuryanti, terbitan Ombak.

Rasa suka dari para pria terhadap Inggit kemudian diberikan dalam bentuk uang seringgit. Tiap bertemu dengan Inggit, para pria selalu memberikannya uang seringgit.

"Sejak itulah aku diberi nama atau katakanlah disebut orang-orang di rumah pada mulanya si Ringgit dan kemudian menjadi si Inggit, sebutan yang lebih manis kedengarannya," kata Inggit.

Kejadian itu tak hanya terjadi di luar rumah. Saat berada di dalam rumah, Inggit kerap kali dilempari para pria dengan sebuah bungkusan yang berisi uang seringgit dengan genteng sebagai pemberatnya.

Inggit muda kemudian merasakan jatuh cinta. Inggit jatuh cinta kepada seorang pemuda bernama Sanusi. Namun, jalinan kasih keduanya tak berlanjut ke pelaminan. Inggit yang didorong rasa cemburu karena mendengar Sanusi akan dinikahkan dengan gadis lain, memutuskan menikah dengan Kopral Residen Belanda bernama Nata Atmadja. Pernikahan itu terjadi saat Inggit berusia 16 tahun.

Namun, pernikahan Inggit dengan Nata tak berlangsung lama. Keduanya akhirnya bercerai pada 1904. Di dalam lubuk hatinya, Inggit ternyata masih mencintai Sanusi. Tak lama berselang, Sanusi akhirnya bercerai dengan istrinya. Inggit dan Sanusi akhirnya menikah.

Keduanya kemudian bercerai pada 1923. Inggit kemudian menikah dengan Soekarno dan mengarungi bahtera rumah tangga selama kurang lebih 20 tahun lamanya. Inggit dicerai Soekarno karena tak terima dimadu oleh Soekarno yang hendak menikahi Fatmawati.

Sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa