VIVAnews - Sarah Moore dan Geoff Daniels bukan pelacur. Mereka adalah pasangan kekasih saling mencintai yang kebetulan berprofesi sebagai pasangan pengganti bagi mereka yang memiliki masalah seksual.
Seperti dikutip dari laman The Sun, sebagai pasangan pengganti, Sarah dan Geoff bertugas membantu pasangan orang lain mengatasi masalah seksual di tempat tidur, termasuk mengatasi gugup saat 'malam pertama'.
Klien mereka umumnya adalah pasangan menikah. Artinya istri atau suami orang lain. Tak hanya melayani jasa di seputar Inggris, mereka juga melayani sejumlah klien dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Prancis, dan Australia.
Selama 19 tahun menjalani profesi itu, Sarah telah bersetubuh dengan 3.323 pria, 52 di antaranya perjaka. Sedangkan Geoff sudah meniduri 2.162 wanita, 49 di antaranya perawan.
Mereka menawarkan sejumlah jasa pelatihan untuk memperbaiki kehidupan seks sejumlah pasangan yang bermasalah. Mereka mengombinasikan konseling dengan sejumlah praktik seksual seperti terapi pijat seksual, metode relaksasi, hingga gaya bercinta Tantra.
Mereka juga mengajarkan cara memperpanjang durasi bercinta, juga beberapa trik mengatasi disfungsi seksual. "Kami bangga dengan pekerjaan kami dan kami tak pernah merasa buruk setelah tidur dengan suami, istri, atau pasangan orang lain. Kami dibayar untuk membantu mereka, bukan mencari kenikmatan," kata Sarah.
Mereka menolak disamakan dengan pelacur. "Kami tak sekadar mencari kenikmatan seksual, tapi klien kami datang membawa diagnosis dokter karena mengalami masalah seksual," ujar Sarah. "Dan, sebelum kami bersetubuh, kami sudah melakukan diskusi panjang semacam konsultasi terkait masalah mereka."
Meski belum menikah, Sarah dan Geoff sudah hidup bersama selama 20 tahun. Mereka pertama bertemu saat menempuh studi konseling di Universitas New York. Perjalanan hidup membuat mereka memutuskan untuk menekuni pendampingan seksual.
Selama menjalani profesi itu, Sarah dan Geoff menerapkan aturan tegas untuk selalu menggunakan pengaman seksual, seperti kondom. "Semua pasien juga harus menjalani tes penyakit seksual sebelum melakukan hubungan intim," katanya. (pet)
Seperti dikutip dari laman Your Tango, Christina mengaku sangat tertantang dengan karakter Samantha yang begitu percaya diri memikat dan menguasai banyak pria di tempat tidur. "Samantha sangat seksi, percaya diri, dan membanggakan. Saya terpesona dengan perilakunya yang seperti pria, bisa tidur dengan siapa saja," katanya.
Christina, yang kala itu masih seorang mahasiswi berusia 20 tahun, pun terdorong untuk menjadi menjalani kehidupan bak Samantha. Ia bersetubuh dengan sedikitnya satu pria dalam seminggu. Demi mencapai targetnya menyetubuhi 1.000 pria, ia nekat melakukan apa saja, termasuk melakukan hubungan seksual dengan dua lelaki sekaligus.
Menjelang lulus kuliah, jumlah pria yang berhasil ditaklukkannya telah menyentuh angka 300. Seiring bertambahnya usia, obsesinya makin meletup-letup. Selama bekerja di London, ia semakin rajin menggoda pria di sejumlah bar. Ia juga semakin sering berlibur demi bertemu lebih banyak pria. Bahkan, ia pernah bersetubuh dengan 15 pria selama sepekan berlibur di Ibiza, Spanyol.
Agar tak salah menghitung, Christina selalu membawa buku harian setiap kali bepergian. Ia juga tak pernah lupa menuliskan nama pria berikut kemampuan seksualnya setiap kali selesai melakukan persetubuhan. Setiap detail pengalamannya tertuang rapi dalam buku hariannya.
Di tengah lingkungan sosial yang mulai memanggilnya pelacur, Christina pantang mundur. "Saya tidak merasa kotor, saya sudah merasa kecanduan," katanya. Christina sudah dibutakan obsesinya. Ia agaknya juga tak peduli dengan potensi penyakit menular seksual yang bisa membunuhnya.
Yang pasti, setelah berhasil menyelesaikan misinya pada usia 30 tahun, Christina mulai menyesali diri. "Saya sepertinya telah mengambil tindakan yang terlampau jauh. Yang saya inginkan saat ini hanya menenangkan diri," katanya.
Kisah Christina adalah salah satu potret dari seberapa negatif tayangan televisi bisa berdampak bagi kehidupan manusia. Itulah mengapa banyak psikolog selalu mengingatkan akan pentingnya menyeleksi setiap tayangan yang akan ditonton. Penting buat kita untuk dapat memisahkan antara dunia imajinasi dan realita. (pet)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar