Aneh, di Majene Dua Balita Doyan Makan sarung, Batu dan Tanah
Diposting oleh : Administrator
DUSUN Malatewa. Demikian nama dusun yang tertulis di atas sebuah tugu disisi sebelah kiri jalan saat menyusuri sebuah jalan sempit berkelok di kaki bukit. Memasuki dusun ini, di antara sela-sela pohon kelapa yang terlihat adalah rumah-rumah panggung ukuran kecil milik penduduk yang kebanyakan dibangun dari tiang yang di pancangkan ketanah. Atap rumah dibuat dari daun rumbia yang juga di jumpai banyak tumbuh di atas rawa-rawa tak jauh dari rumah-rumah penduduk. Sementara dinding rumah terbuat dari pelepah daun rumbia dengan bilah-bilahan bambu sebagai lantainya.
Di Dusun ini terdapat sediktnya 27 kepala keluarga yang rata-rata bermata pencaharian sebagai petani degan hasil utama kopra dan kakao.
Sabtu siang (2/4) saat saya memasuki perkampungan kecil yang masuk dalam wilayah Desa Mekatta Kecamatan Malunda kabupaten Majene ini, di depan rumah-rumah yang terlihat berpencar di sepanjang sisi jalan, tampak beberapa orang anak sedang asyik bercengkrama. Dari kejauhan, terdengar senda gurau dan derai tawa mereka memecah kesunyian. Sementara nun di sebelah barat yang berjarak sekitar 2 Km, sayup-sayup terdengar suara kendaraan menbelah jalan poros Majene Mamuju. Dari semak-semak dan rawa-rawa di sepanjang jalan dusun terdengar suara burung-burung yang seakan mencoba menghibur warga di tengah kesunyian.
Tidak ada suara lain. Sore hingga gelap menyelimuti malam, yang terdengar adalah suara angin membelai ranting dan dedaunan di tingkahi suara serangga malam. Meski dari jarak yang tidak terlalu jauh terlihat rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan poros dengan lampu listrik dari PLN. Namun di dusun ini tidak ada penerangan selain cahaya lampu pelita yang malam itu bergoyang dipermainkan angin.
Ditengah kesunyian itu, semua cerita tentang mereka seakan terpendam dalam diam. Namun siapa sangka, di dusun inilah cerita tentang dua orang anak yang memiliki kebiasaan aneh dalam pola makan, terpendam sekian waktu tanpa terdengar ketelinga petugas kesehatan yang seharusnya mengetahui pola hidup masyarakatnya. Kedua anak yang masih bersepupu ini tinggal dalam satu rumah dengan kedua orang tua mereka masing-masing yang masih merupakan saudara kandung.
Jamidin, ayah M. Risal, anak yang doyan makan kain sarung kumal ini adalah sudara kandung dari Nurlia, ibu Jasrul. Jasrul sendiri adalah anak usia tiga tahun lima bulan yang kerap membuat para tetanggany bergidik karena hampir setiap turun ketanah untuk bermain pasti kedapatan mulutnya penuh dengan tanah dan batu-batu kecil seukuran kelereng.
Informasi keberadaan dua anak yang memiliki kebiasaan aneh ini saya peroleh dari seorang teman yang bertetangga rumah dengan tempat tinggal kedua anak itu selama ini. Karena merasa kebiasaan kedua anak itu bukan hal yang biasa dan terdorong melihat dari dekat seperti apa saat sedang melakukan kebiasaan aneh itu, sore Ahad (3/4) saya bertandang kerumah kecil yang saat ini ditinggali lebih dari satu kepala keluarga tersebut. Diatas rumah itu tampak sekali tergambar kondisi kehidupan mereka.
Jamidin (30) sebelumnya tinggal di Kabupaten Pasir Kalimantan Timur. Lelaki yang telah dua kali menikah ini memiliki empat orang anak. Muh. Risal adalah anak pertama dari istrinya yang kedua. Sementara tiga anaknya yang lain tinggal dengan mantan istri pertamanya sejak keduanya bercerai beberapa tahun lalu. Di Kaltim, Jamidin bekerja sebagai penebang kayu di hutan untuk perusahaan perkebunan. Di tempatnya bekerja inilah ia bertemu dengan wanita yang kini menjadi istri keduanya. Dari pernikahannya dengan perempuan asli kalimantan ini lahirlah Muh.Risal, anak yang mempunyai kebiasaan suka makan kain sarung yang sudah agak kumal.
" Dia tidak suka kalau kain sarungnya baru." Ujar Jalmia (22) Ibu Muh.Risal, sambil memperlihatkan sebuah kain sarung batik yang terlihat sobek di beberapa bagian pinggirnya. Menurut Jamidin, sarung yang selalu di bawa-bawa anaknya itu, sudah merupakan sarung yang kedelapan. Kata Jamidin, biasanya anaknya tidak akan mau melepas sarung kesukaannya sebelum benar-benar habis. " Kecuali kalau di buang. Tapi setelah itu pasti dia akan cari sarung yang lain. Begitu seterusnya. dan dia akan mengamuk kalau kain itu dipisahkan darinya." Tutur jamidin.
Kebiasaan Jasrul lain lagi,anak usia tiga tahun lebih tersebut menpunyai kebiasaan suka makan tanah dan batu-batu kecil.
" Awalnya kami tidak tahu kapan kebiasaan itu bermula. Tapi sebelum ia bisa bermain di tanah dan kedapatan sering makan batu dan tanah, sebelumnya ia suka makan arang dan abu dapur."Kata Nurlia ibu Jasrul. " Saya baru kaget setelah melihat kotorannya yang berubah warnah separti lumpur," Lanjut Nurlia. Kata NUrlia, meski ia sudah berusaha melarang, bahkan sering di pukul agar menghentikan kebiasaanya tersebut, namun Jasrul seakan tidak peduli dan seperti sudah ketagiahan dan terlihat loyo kalau dalam sehari tidak makan tanah dan batu-batu kecil. Anehnya kata Nurlia, sebelum anaknya diketahui mempunyai kebiasaan itu, Jasrul malah sering sakit-sakitan dan kurang bergairah. Namun sejak biasa bermain di tanah dia tidak ubahnya denagn anak-anak sebayanya yang lain. Hanya saja kebiasaan itu, lanjut Nurlia, yang membuatnya selalu kahawatir akan berpengaruh pada kondisi kesehatan percernaan anaknya. Namun, di akui Nurlia, meski bkan berarti tidak pernah sakit namun, Jasrul anaknya selama ini tidak pernah mengalami kelainan kesehatan yang menonjol yang mungkin disebabkan kebiasaannya itu. Sebab itu pula, sehingga Nurlia mengaku tidak pernah menyampaikan kelainan anaknya tersebut kepada petugas kesehatan meski ia juga kerap membawa anaknya berobat ke pustu terdekat.
Tidak Mengalami Ganguan Penyakit
Pelaksana tugas kepala puskesmas Malunda, Salahuddin, saat di hubungi di puskesmas Malunda selasa (5/4) Mengaku kaget dengan adanya informasi tersebut terjadi di wilayahnya, apa lagi selama ini pihaknya tidak pernah mendapat laporan dari petugas kesehatan yang bertugas di wilayah desa Mekatta. Namun dengan adanya informasi tersebut ia berjanji hari itu juga akan turun bersama jajarannya untuk melihat langsung kondisi kesehatan anak tersebut. Selasa di hari yang sama, Salahiddin bersama rombongan tiba di Dusun Malatewa skitar pukul sebelas siang dan langsung melakukan pemerikasaan kesehatan kepada kedua anak tersebut. Dari hasil pemeriksaan kesehatan yang di lakukan Salahuddin bersama timnya dari puskesmas Malunda, tidak di peroleh tanda-tanda kedua anak tersebut mengalami ganguan kesehatan atau mengidap sejenis penyakit disebabkan kebiasaannya selama ini. Namun untuk mengantisipasi segala kemungkinan terkai kesehatan kedua anak tersebut, uasai melakukan kunjungan pihak puskesmas Malunda segerah membuat laporan yang ditujukan langsung kepada kepala dinas kesehatan kabupaten Majene. Mendapat laporan dari puskesmas malunda, Rabu, (6/4) Kepala dinas kesehatan Majene bersama kepala puskesmas Malunda dan sejumlah petugas puskesmas dan dokter mendatangi langsung temapat kedua anak itu untuk melihat langsung dan melakukan pemeriksaan terhadap keduanya. Sampai berita ini di tulis belum diketahui sikap dan upaya yang diambil dinas kesehatan majene terhadap kedua anak tersebut. (s)
Teks dan Foto : Muhammad Gufran
Di Dusun ini terdapat sediktnya 27 kepala keluarga yang rata-rata bermata pencaharian sebagai petani degan hasil utama kopra dan kakao.
Sabtu siang (2/4) saat saya memasuki perkampungan kecil yang masuk dalam wilayah Desa Mekatta Kecamatan Malunda kabupaten Majene ini, di depan rumah-rumah yang terlihat berpencar di sepanjang sisi jalan, tampak beberapa orang anak sedang asyik bercengkrama. Dari kejauhan, terdengar senda gurau dan derai tawa mereka memecah kesunyian. Sementara nun di sebelah barat yang berjarak sekitar 2 Km, sayup-sayup terdengar suara kendaraan menbelah jalan poros Majene Mamuju. Dari semak-semak dan rawa-rawa di sepanjang jalan dusun terdengar suara burung-burung yang seakan mencoba menghibur warga di tengah kesunyian.
Tidak ada suara lain. Sore hingga gelap menyelimuti malam, yang terdengar adalah suara angin membelai ranting dan dedaunan di tingkahi suara serangga malam. Meski dari jarak yang tidak terlalu jauh terlihat rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan poros dengan lampu listrik dari PLN. Namun di dusun ini tidak ada penerangan selain cahaya lampu pelita yang malam itu bergoyang dipermainkan angin.
Ditengah kesunyian itu, semua cerita tentang mereka seakan terpendam dalam diam. Namun siapa sangka, di dusun inilah cerita tentang dua orang anak yang memiliki kebiasaan aneh dalam pola makan, terpendam sekian waktu tanpa terdengar ketelinga petugas kesehatan yang seharusnya mengetahui pola hidup masyarakatnya. Kedua anak yang masih bersepupu ini tinggal dalam satu rumah dengan kedua orang tua mereka masing-masing yang masih merupakan saudara kandung.
Jamidin, ayah M. Risal, anak yang doyan makan kain sarung kumal ini adalah sudara kandung dari Nurlia, ibu Jasrul. Jasrul sendiri adalah anak usia tiga tahun lima bulan yang kerap membuat para tetanggany bergidik karena hampir setiap turun ketanah untuk bermain pasti kedapatan mulutnya penuh dengan tanah dan batu-batu kecil seukuran kelereng.
Informasi keberadaan dua anak yang memiliki kebiasaan aneh ini saya peroleh dari seorang teman yang bertetangga rumah dengan tempat tinggal kedua anak itu selama ini. Karena merasa kebiasaan kedua anak itu bukan hal yang biasa dan terdorong melihat dari dekat seperti apa saat sedang melakukan kebiasaan aneh itu, sore Ahad (3/4) saya bertandang kerumah kecil yang saat ini ditinggali lebih dari satu kepala keluarga tersebut. Diatas rumah itu tampak sekali tergambar kondisi kehidupan mereka.
Jamidin (30) sebelumnya tinggal di Kabupaten Pasir Kalimantan Timur. Lelaki yang telah dua kali menikah ini memiliki empat orang anak. Muh. Risal adalah anak pertama dari istrinya yang kedua. Sementara tiga anaknya yang lain tinggal dengan mantan istri pertamanya sejak keduanya bercerai beberapa tahun lalu. Di Kaltim, Jamidin bekerja sebagai penebang kayu di hutan untuk perusahaan perkebunan. Di tempatnya bekerja inilah ia bertemu dengan wanita yang kini menjadi istri keduanya. Dari pernikahannya dengan perempuan asli kalimantan ini lahirlah Muh.Risal, anak yang mempunyai kebiasaan suka makan kain sarung yang sudah agak kumal.
" Dia tidak suka kalau kain sarungnya baru." Ujar Jalmia (22) Ibu Muh.Risal, sambil memperlihatkan sebuah kain sarung batik yang terlihat sobek di beberapa bagian pinggirnya. Menurut Jamidin, sarung yang selalu di bawa-bawa anaknya itu, sudah merupakan sarung yang kedelapan. Kata Jamidin, biasanya anaknya tidak akan mau melepas sarung kesukaannya sebelum benar-benar habis. " Kecuali kalau di buang. Tapi setelah itu pasti dia akan cari sarung yang lain. Begitu seterusnya. dan dia akan mengamuk kalau kain itu dipisahkan darinya." Tutur jamidin.
Kebiasaan Jasrul lain lagi,anak usia tiga tahun lebih tersebut menpunyai kebiasaan suka makan tanah dan batu-batu kecil.
" Awalnya kami tidak tahu kapan kebiasaan itu bermula. Tapi sebelum ia bisa bermain di tanah dan kedapatan sering makan batu dan tanah, sebelumnya ia suka makan arang dan abu dapur."Kata Nurlia ibu Jasrul. " Saya baru kaget setelah melihat kotorannya yang berubah warnah separti lumpur," Lanjut Nurlia. Kata NUrlia, meski ia sudah berusaha melarang, bahkan sering di pukul agar menghentikan kebiasaanya tersebut, namun Jasrul seakan tidak peduli dan seperti sudah ketagiahan dan terlihat loyo kalau dalam sehari tidak makan tanah dan batu-batu kecil. Anehnya kata Nurlia, sebelum anaknya diketahui mempunyai kebiasaan itu, Jasrul malah sering sakit-sakitan dan kurang bergairah. Namun sejak biasa bermain di tanah dia tidak ubahnya denagn anak-anak sebayanya yang lain. Hanya saja kebiasaan itu, lanjut Nurlia, yang membuatnya selalu kahawatir akan berpengaruh pada kondisi kesehatan percernaan anaknya. Namun, di akui Nurlia, meski bkan berarti tidak pernah sakit namun, Jasrul anaknya selama ini tidak pernah mengalami kelainan kesehatan yang menonjol yang mungkin disebabkan kebiasaannya itu. Sebab itu pula, sehingga Nurlia mengaku tidak pernah menyampaikan kelainan anaknya tersebut kepada petugas kesehatan meski ia juga kerap membawa anaknya berobat ke pustu terdekat.
Tidak Mengalami Ganguan Penyakit
Pelaksana tugas kepala puskesmas Malunda, Salahuddin, saat di hubungi di puskesmas Malunda selasa (5/4) Mengaku kaget dengan adanya informasi tersebut terjadi di wilayahnya, apa lagi selama ini pihaknya tidak pernah mendapat laporan dari petugas kesehatan yang bertugas di wilayah desa Mekatta. Namun dengan adanya informasi tersebut ia berjanji hari itu juga akan turun bersama jajarannya untuk melihat langsung kondisi kesehatan anak tersebut. Selasa di hari yang sama, Salahiddin bersama rombongan tiba di Dusun Malatewa skitar pukul sebelas siang dan langsung melakukan pemerikasaan kesehatan kepada kedua anak tersebut. Dari hasil pemeriksaan kesehatan yang di lakukan Salahuddin bersama timnya dari puskesmas Malunda, tidak di peroleh tanda-tanda kedua anak tersebut mengalami ganguan kesehatan atau mengidap sejenis penyakit disebabkan kebiasaannya selama ini. Namun untuk mengantisipasi segala kemungkinan terkai kesehatan kedua anak tersebut, uasai melakukan kunjungan pihak puskesmas Malunda segerah membuat laporan yang ditujukan langsung kepada kepala dinas kesehatan kabupaten Majene. Mendapat laporan dari puskesmas malunda, Rabu, (6/4) Kepala dinas kesehatan Majene bersama kepala puskesmas Malunda dan sejumlah petugas puskesmas dan dokter mendatangi langsung temapat kedua anak itu untuk melihat langsung dan melakukan pemeriksaan terhadap keduanya. Sampai berita ini di tulis belum diketahui sikap dan upaya yang diambil dinas kesehatan majene terhadap kedua anak tersebut. (s)
Teks dan Foto : Muhammad Gufran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar